Postingan

Menampilkan postingan dari 2016

Andai

Gambar
   Hari itu hari baik dibulan ke 10, aku sedang terduduk dikursi teras rumahku dengan rokok yang rupanya sudah jenuh kuhisap daritadi, Kopiku pun nampaknya juga sudah mulai lelah sampai ia tak lagi hangat, hanya memandangi taman yang hanya tertanam rumput-rumput liar kegiatanku hari itu. Dalam lamunanku tiba-tiba kulihat seorang pria menenteng sebuah pot bunga Krisan, dia menitipkan bunga itu untuk menghiasi tamanku yang sudah lama tak dihiasi bunga-bunga. Pria itu hanya memberi lalu pergi, aku belum mengerti siapa pria itu. Pohon itu begitu indah dengan tangkai-tangkai yang sehat dan segar, tapi belum kulihat ada bunga yang akan tumbuh.     Setiap pagi dan sore aku siram bunga itu, sambil kucabuti rumput yang coba tumbuh dimenghisap nitrisi tanaman itu. Aku tak suka ada yang ganggu ia tumbuh. Setiap sabtu sore kupupuk tanaman itu agar cepat berbunga, kuperhatikan setiap detail ia tumbuh. Sampai akhirnya dibulan yang sama diminggu keempat aku mulai meli...

Antara Penjual Koran Dan Koruptor

Gambar
                H ari benar-benar sudah pucat, ranting mahoni yang dulu kokoh kini mengering,kulihat disela antara antrian macetnya jalan, lelaki tua itu hilir mudik menjajakan Koran, menawarkan bacaan tentang kisruh politik,kasus korupsi dan kemiskinan diIndonesia. Kulihat ia tidak terlalu peduli dengan isi berita Koran itu, ia lebih peduli jika Koran yang ia jajakan itu habis terjual,sehingga tak perlu hingga petang ia dijalanan. Mungkin lelaki itu lebih peduli bagaimana membayar tagihan kontrakan, biaya sekolah dan makan keluargannya.               Siang benar-benar ganas hari itu, sepertinya sang Surya tak mau bersembunyi sementara waktu. Antrian  kendaraan semakin sedikit, belum kulihat senyum yang menandakan akan pulang lebih awal penjual Koran itu. Dibawah pohon mahoni tertoar itu ia bersandar, sepertinya ia bicara sendiri apakah bisa makan anaknya nanti.  Sepertinya belum sempat angin me...

Lumut Tembok Pekarangan

Gambar
Lumut Tembok Pekarangan Aku ini hanya lumut tembok pekarangan    Yang luput dari pandangan orang Berteman dengan kecoak yang selalu berbaris mendengar orasi Aku hanya lumut yang diabaikan Berkawan dengan kodok-kodok yang sibuk bernyanyi diterpa gerimis Kami tak tahu tentang tikus-tikus yang mondar-mandir dibalik kursinya Kami tak paham dengan wakil-wakil yang sibuk bikin undang-undang Aku hanya lumut tembok pekarangan Yang tak diinginkan kehadirannya Kodok kudengar kemarin mati Dibrondong peluru ular-ular bersenjata api Dibungkam nyanyiannya yang berseru ditengah gerimis tangis semut-semut pekerja Aku hanya lumut tembok pekarangan Yang selalu ditipu bunga-bunga  kemunafikan Kudengar kecoak mati Dipukuli monyet-monyet yang dibayar tikus-tikus tadi Aku hanya lumut tembok pekarangan Yang menunggu mati dicabut kebobrokan reformasi Tapi tembok itu sudah tertancap akarku Kutinggalkan benih-benihku Ini giliran kau. D...

Bapak.

Gambar
“ halloooo dekk!!” Kata kata itu tidak lagi bisa ia ucapkan saat hari-hari itu,dimana kerongkongnnya tersedak selang oksigen dan tangannya terpatri infus, ahhh benar benar rindu aku. Tatapannya kosong menerawang jauh langit-langit kamar rumah sakit itu. Disisinya setia wanita yang dipinangnya 20 tahun lalu, menggenggam lembut seperti saat janji pernikahan yang mereka ucapkan saat didepan altar gereja, setia dalam senang dan sedih , suka dan duka. Sayup-sayup doa dibisikannya ditelinga pria itu, masih kosong pandangannya beralih kedua cicak yang seakan ikut mendoakannya dari pojok langit-langit kamar rumah sakit . Sang wanita masih menggenggam tangannya seakan bukan lagi dua tangan yang begandengan melainkan satu tangan yang sama-sama mendayung biduk  rumah tangga. Tetes demi tetes infus itu melantunkan melodi yang mengirigi nostalgia mereka kala sama-sama membangun rumah mungil yang penuh cerita cinta. Sang pria hanya diam sesekali meneteskan airmata merasakan cinta yan...

"Bunga Kertas"

Gambar
   Aku ini pohon jati yang kesepian dikebun ilalang yang tak bertuan. Sampai dimusim kemarau yang kering itu dari rantingku tumbuh “Si Bunga Kertas” dia gadis yang begitu lemah lembut, kedatangannya yang perlahan itu membingungkan ku, untuk apa dia hadir padaku yang begitu gersang dibakar mentari.     Untuk pertamakali aku menyapanya dipagi itu, ketika sayup burung gelatik masih malu berkicau. “mengapa kau tumbuh didahanku yang tak cocok untuk bunga yang cantik sepertimu?” aku menanyakannya, “aku bernegosiasi dengan Tuhan, agar aku bisa hadir menemani pohon yang begitu kesepian” kata itu benar-benar menghiburku yang selama ini begitu sendirian, karena rerumputan dan alang-alang sibuk bersenda gurau disela akar-akarku yang menjalar dibawah.    “Si Bunga Kertas” selalu menemani hari-hariku, kelopak bunganya yang putih seakan membuat iri pohon perdu lain ingin juga di hinggapi. Sampai kemarau yang begitu panjang dibulan April kami begitu kekering...

Lampu Merah Marah-Marah

Gambar
piknikdong.com     Semua orang marah-marah, memaki lampu merah yang lambat detiknya.Sumpah serapah dilemparkan dari mulutnya, sampai Kudanil yang besar bisa keluar dari kerongkongannya, yang tertawa hanya pedagang rokok dipinggir trotoar jalan, sambil dihisap rokoknya dia menggumamkan kebingungan pada mahluk yang marah tadi.         Motor dan mobil semua bising, klakson bersahutan. Ramai sampai teriak teriak kalau mau bicara,lampu merah itu masih dengan malas menggulirkan angkanya, hanya aku yang santai bermain harmonica dibawah tiang lampu yang tak mengerti apa yang dimau mahluk pemarah itu. Sampai lampu hijau tak sabar juga menunggu giliran menyala, aku rasa semua orang ingin melempari batu si lampu merah. “Akhirnya hijau!” teriak sopir bus itu, diinjaknya pedal gas bus tua itu.        Yang dibelakang serobot menyerobot, kanan, kiri menyalip. Spion bersentuhan, knalpot bersahutan, mungkin dirumah ...

Yang Terhormat Sahabat

Gambar
Kepada Yth,                                                                                        Jakarta 14 September 2016 Saudara Yudi Nur Muhamad Ditempat

Aku dan hujan

Gambar
   Aku menyayanginya namanya hujan, pertemuanku bersamanya ketika mendung menggelayut dicakrawala, kulihat   dia mengintip dari awan yang mencapakannya kala itu. Aku benar benar mencintainya takkala rinai setia menemaniku ditaman sore itu.    Dengan ikhlas hujan jatuh dari awan yang menelantarkannya ditanah. Cinta kami tulus, setulus hujan yang menghidupi   rerumputan yang mengering jauh dari tepian kolam,dengan angun hujan meletakan kesegarannya dipundaku perlahan jatuh menyeka peluh diwajahku. Hujan benar-benar kesayanganku, dengan elok menciptakan alur air disela belukar ditepian kolam, mencipta melodi gemericik nyanyian, aku menyukainya. Dengan sangat cantik ia memenuhi kolam yang disenandungkan nyanyian katak. Aku dan hujan sangat mesra melupakan dingin yang menerpaku karena angin yang cemburu melihat kami.      Keruh kolam tak membuatku tak mengenal   hujan air daan wanginya sudah kutahu benar. Sepertinya mentari p...

Love

Gambar
H ari ini 14 mei, kuambil handphone ku dari saku kantong clana jeans ku. Ku ketik pesan singkat untuk istriku, “ sayang hari ini 12 tahun kita menikah, akan ku buatkan makan malam untuk kita, akan ku buatkan sayur sup yang kau sukai” kira kira begitu isinya. Hari itu aku pulang lebih awal karena ini hari yang special. kupacu mobilku, jalanan lebih lengang malam itu, lampu kota terlihat lebih menyala, bunyi klakson lebih bernada. Mungkin karena hari spesialku. Kukenang wanita itu sebelum kami bersatu, dipertemukan dan diikat dalam janji sehidup semati, dikaruniai putra dan putri Raka dan Nurani. Dewi yang memberinya nama itu, Dewi istriku. Kubayangkan malam yang istimewa dengan lilin yang menyala ditengah meja makan rumah kami. Aku mampir di toko bunga langgananku membeli bunga Anyelir merah kesukaan istriku, mungkin setangkai Anyelir kan mempercantik makan malam kami. Ku letakan dijok samping kursi mobilku. Kuparkir mobilku digarasi rumah. Kubuka pintu yang tak dikunci tak ada s...