Bapak.
“
halloooo dekk!!”
Kata kata itu tidak lagi bisa ia ucapkan saat hari-hari
itu,dimana kerongkongnnya tersedak selang oksigen dan tangannya terpatri infus,
ahhh benar benar rindu aku. Tatapannya kosong menerawang jauh langit-langit
kamar rumah sakit itu. Disisinya setia
wanita yang dipinangnya 20 tahun lalu, menggenggam lembut seperti saat janji
pernikahan yang mereka ucapkan saat didepan altar gereja, setia dalam senang
dan sedih , suka dan duka. Sayup-sayup doa dibisikannya ditelinga pria itu,
masih kosong pandangannya beralih kedua cicak yang seakan ikut mendoakannya dari
pojok langit-langit kamar rumah sakit . Sang wanita masih menggenggam tangannya
seakan bukan lagi dua tangan yang begandengan melainkan satu tangan yang sama-sama mendayung biduk rumah tangga.
Tetes demi tetes infus itu melantunkan melodi yang mengirigi
nostalgia mereka kala sama-sama membangun rumah mungil yang penuh cerita cinta.
Sang pria hanya diam sesekali meneteskan airmata merasakan cinta yang begitu
deras mengalir dari wanitanya itu.
Sampai saatnya. Tuhan membutuhkan pria itu untuk memulai
tugasnya untuk membangun rumah untuk kami disurga, perlahan tangannya dingin
tak bisa lagi sang wanita meraskan kehangatannya yang dulu memeluknya sehabis
pulang bekerja. Pria itu seakan tidak bisa bernegosiasi dengan malaikat yang
menghantarnya menuju Tuhan, memang sudah harus selesai tugasnya.
Perlahan lahan iya melayang, menitipkan salam pada cicak
cicak yang setia mendoakannya,menembus langit langit kamar rumah sakit itu.
Pria itu pulang, meninggalkan tubuh yang dingin dimandikan
tangis.
Pria itu yang kukenal dengan Bapak.
keren kak, sukses terus kak👍
BalasHapus