Lumut Tembok Pekarangan
Lumut Tembok Pekarangan
Aku ini hanya lumut tembok pekarangan
Yang luput dari pandangan orang
Berteman dengan kecoak yang selalu berbaris mendengar orasi
Aku hanya lumut yang diabaikan
Berkawan dengan kodok-kodok yang sibuk bernyanyi diterpa
gerimis
Kami tak tahu tentang tikus-tikus yang mondar-mandir dibalik
kursinya
Kami tak paham dengan wakil-wakil yang sibuk bikin
undang-undang
Aku hanya lumut tembok pekarangan
Yang tak diinginkan kehadirannya
Kodok kudengar kemarin mati
Dibrondong peluru ular-ular bersenjata api
Dibungkam nyanyiannya yang berseru ditengah gerimis tangis
semut-semut pekerja
Aku hanya lumut tembok pekarangan
Yang selalu ditipu bunga-bunga kemunafikan
Kudengar kecoak mati
Dipukuli monyet-monyet yang dibayar tikus-tikus tadi
Aku hanya lumut tembok pekarangan
Yang menunggu mati dicabut kebobrokan reformasi
Tapi tembok itu sudah tertancap akarku
Kutinggalkan benih-benihku
Ini giliran kau.
Dan mereka yang rindu keadilan.
Puisi ini terinspirasi dari puisi Wiji Thukul yang berjudul “Bunga
dan Tembok”
Komentar
Posting Komentar