Antara Penjual Koran Dan Koruptor
Siang benar-benar ganas hari itu, sepertinya sang Surya tak
mau bersembunyi sementara waktu. Antrian
kendaraan semakin sedikit, belum kulihat senyum yang menandakan akan
pulang lebih awal penjual Koran itu. Dibawah pohon mahoni tertoar itu ia
bersandar, sepertinya ia bicara sendiri apakah bisa makan anaknya nanti. Sepertinya belum sempat angin menyejukan keringatnya ia menjajakan Koran lagi. satu
persatu pengendara yang terkena macet itu ia tawari Koran, tak peduli Pejabat,Polisi,Camat,
Maling, Tukang Ojek,Sopir Bus, Pecopet dan Koruptor semua ditawarkan korannya.
Mungkin petang benar-benar tak sabar datang, sampai Koran yang
laki-laki itu belum kunjung habis petang sudah tiba, rautnya mengiba pada
langit berharap siang tak cepat berpaling, tapi apa kuasa diri ia hanya penjual
Koran, pikirnya dalam hati. Langkahnya lambat, membayangkan anaknya yang sudah
3 hari tak makan nasi. Adzan yang lirih memanggilnya keperaduan ilahi, ia
menceritakan anaknya yang lapar, istrinya yang bingung mengurus anak dan segala kesusahannya
pada sang Pencipta, ia berdoa ingin jadi Koruptor yang tiap hari bisa makan
nasi, “dengan daging ayam saja tidak apa-apa ya Tuhan” dia berandai dalam
doanya, tidak perlu panas-panasan dijalanan lagi, tidak perlu memikirkan bayar
kontrakan,dan listrik. “Pasti istriku sangat senang dengan perhiasan yang akan
aku belikan” dia memimpikan itu dalam doanya, “Astagfirullahaladzim…” Dihapuskannya
angan-angan menjadi koruptor, dibacanya berita dalam Koran yang ia jual, “HUKUMAN
MATI BAGI PARA KORUPTOR”. “Ya ALLAH, selamanya jadi tukang Koran hamba ikhlas,hamba
tak ingin mati dan meningalkan noda bagi anak hamba sebagai anak Koruptor,
lebih baik mati sebagai tukang koran yang mati dengan rezeki yang halal”. Diselesaikan
doanya dan pulang kerumah, ditemui keluarga kecil dalam gubuknya, gubuk yang
begitu sederhana namun penuh dengan keikhlasan dan cinta.

Komentar
Posting Komentar