Antara Penjual Koran Dan Koruptor

       
        Hari benar-benar sudah pucat, ranting mahoni yang dulu kokoh kini mengering,kulihat disela antara antrian macetnya jalan, lelaki tua itu hilir mudik menjajakan Koran, menawarkan bacaan tentang kisruh politik,kasus korupsi dan kemiskinan diIndonesia. Kulihat ia tidak terlalu peduli dengan isi berita Koran itu, ia lebih peduli jika Koran yang ia jajakan itu habis terjual,sehingga tak perlu hingga petang ia dijalanan. Mungkin lelaki itu lebih peduli bagaimana membayar tagihan kontrakan, biaya sekolah dan makan keluargannya.  

            Siang benar-benar ganas hari itu, sepertinya sang Surya tak mau bersembunyi sementara waktu. Antrian  kendaraan semakin sedikit, belum kulihat senyum yang menandakan akan pulang lebih awal penjual Koran itu. Dibawah pohon mahoni tertoar itu ia bersandar, sepertinya ia bicara sendiri apakah bisa makan anaknya nanti.  Sepertinya belum sempat angin menyejukan keringatnya ia menjajakan Koran lagi. satu persatu pengendara yang terkena macet itu ia tawari Koran, tak peduli Pejabat,Polisi,Camat, Maling, Tukang Ojek,Sopir Bus, Pecopet dan Koruptor semua ditawarkan korannya.


            Mungkin petang benar-benar tak sabar datang, sampai Koran yang laki-laki itu belum kunjung habis petang sudah tiba, rautnya mengiba pada langit berharap siang tak cepat berpaling, tapi apa kuasa diri ia hanya penjual Koran, pikirnya dalam hati. Langkahnya lambat, membayangkan anaknya yang sudah 3 hari tak makan nasi. Adzan yang lirih memanggilnya keperaduan ilahi, ia menceritakan anaknya yang lapar, istrinya yang bingung mengurus anak dan segala kesusahannya pada sang Pencipta, ia berdoa ingin jadi Koruptor yang tiap hari bisa makan nasi, “dengan daging ayam saja tidak apa-apa ya Tuhan” dia berandai dalam doanya, tidak perlu panas-panasan dijalanan lagi, tidak perlu memikirkan bayar kontrakan,dan listrik. “Pasti istriku sangat senang dengan perhiasan yang akan aku belikan” dia memimpikan itu dalam doanya, “Astagfirullahaladzim…” Dihapuskannya angan-angan menjadi koruptor, dibacanya berita dalam Koran yang ia jual, “HUKUMAN MATI BAGI PARA KORUPTOR”. “Ya ALLAH, selamanya jadi tukang Koran hamba ikhlas,hamba tak ingin mati dan meningalkan noda bagi anak hamba sebagai anak Koruptor, lebih baik mati sebagai tukang koran yang mati dengan rezeki yang halal”. Diselesaikan doanya dan pulang kerumah, ditemui keluarga kecil dalam gubuknya, gubuk yang begitu sederhana namun penuh dengan keikhlasan dan cinta. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sekutum Bunga diantara Dinding Kota