Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2016

Antara Penjual Koran Dan Koruptor

Gambar
                H ari benar-benar sudah pucat, ranting mahoni yang dulu kokoh kini mengering,kulihat disela antara antrian macetnya jalan, lelaki tua itu hilir mudik menjajakan Koran, menawarkan bacaan tentang kisruh politik,kasus korupsi dan kemiskinan diIndonesia. Kulihat ia tidak terlalu peduli dengan isi berita Koran itu, ia lebih peduli jika Koran yang ia jajakan itu habis terjual,sehingga tak perlu hingga petang ia dijalanan. Mungkin lelaki itu lebih peduli bagaimana membayar tagihan kontrakan, biaya sekolah dan makan keluargannya.               Siang benar-benar ganas hari itu, sepertinya sang Surya tak mau bersembunyi sementara waktu. Antrian  kendaraan semakin sedikit, belum kulihat senyum yang menandakan akan pulang lebih awal penjual Koran itu. Dibawah pohon mahoni tertoar itu ia bersandar, sepertinya ia bicara sendiri apakah bisa makan anaknya nanti.  Sepertinya belum sempat angin me...

Lumut Tembok Pekarangan

Gambar
Lumut Tembok Pekarangan Aku ini hanya lumut tembok pekarangan    Yang luput dari pandangan orang Berteman dengan kecoak yang selalu berbaris mendengar orasi Aku hanya lumut yang diabaikan Berkawan dengan kodok-kodok yang sibuk bernyanyi diterpa gerimis Kami tak tahu tentang tikus-tikus yang mondar-mandir dibalik kursinya Kami tak paham dengan wakil-wakil yang sibuk bikin undang-undang Aku hanya lumut tembok pekarangan Yang tak diinginkan kehadirannya Kodok kudengar kemarin mati Dibrondong peluru ular-ular bersenjata api Dibungkam nyanyiannya yang berseru ditengah gerimis tangis semut-semut pekerja Aku hanya lumut tembok pekarangan Yang selalu ditipu bunga-bunga  kemunafikan Kudengar kecoak mati Dipukuli monyet-monyet yang dibayar tikus-tikus tadi Aku hanya lumut tembok pekarangan Yang menunggu mati dicabut kebobrokan reformasi Tapi tembok itu sudah tertancap akarku Kutinggalkan benih-benihku Ini giliran kau. D...

Bapak.

Gambar
“ halloooo dekk!!” Kata kata itu tidak lagi bisa ia ucapkan saat hari-hari itu,dimana kerongkongnnya tersedak selang oksigen dan tangannya terpatri infus, ahhh benar benar rindu aku. Tatapannya kosong menerawang jauh langit-langit kamar rumah sakit itu. Disisinya setia wanita yang dipinangnya 20 tahun lalu, menggenggam lembut seperti saat janji pernikahan yang mereka ucapkan saat didepan altar gereja, setia dalam senang dan sedih , suka dan duka. Sayup-sayup doa dibisikannya ditelinga pria itu, masih kosong pandangannya beralih kedua cicak yang seakan ikut mendoakannya dari pojok langit-langit kamar rumah sakit . Sang wanita masih menggenggam tangannya seakan bukan lagi dua tangan yang begandengan melainkan satu tangan yang sama-sama mendayung biduk  rumah tangga. Tetes demi tetes infus itu melantunkan melodi yang mengirigi nostalgia mereka kala sama-sama membangun rumah mungil yang penuh cerita cinta. Sang pria hanya diam sesekali meneteskan airmata merasakan cinta yan...