Antara Penjual Koran Dan Koruptor
H ari benar-benar sudah pucat, ranting mahoni yang dulu kokoh kini mengering,kulihat disela antara antrian macetnya jalan, lelaki tua itu hilir mudik menjajakan Koran, menawarkan bacaan tentang kisruh politik,kasus korupsi dan kemiskinan diIndonesia. Kulihat ia tidak terlalu peduli dengan isi berita Koran itu, ia lebih peduli jika Koran yang ia jajakan itu habis terjual,sehingga tak perlu hingga petang ia dijalanan. Mungkin lelaki itu lebih peduli bagaimana membayar tagihan kontrakan, biaya sekolah dan makan keluargannya. Siang benar-benar ganas hari itu, sepertinya sang Surya tak mau bersembunyi sementara waktu. Antrian kendaraan semakin sedikit, belum kulihat senyum yang menandakan akan pulang lebih awal penjual Koran itu. Dibawah pohon mahoni tertoar itu ia bersandar, sepertinya ia bicara sendiri apakah bisa makan anaknya nanti. Sepertinya belum sempat angin me...