Sekutum Bunga diantara Dinding Kota
Sekuntum Bunga Diantara
Dinding Kota
Sore itu ketika matahari pelan
pelan kembali ketempat peristirahatannya untuk digantikan rembulan yang sudah
bersiap tapil. Aku sedang berjalan sendiri disebuah jalan yang nampaknya asing
bagiku,jalan yang begitu suram dengan banyaknya bangunan dan bekas peluru
ditemboknya. Aku mencium aroma amis yang diantarkan angin kearahku, seakan
desir angin sayu membisik tentang kota yang suram ini. Ketika hari mulai gelap
aku melihat seorang gadis kecil dengan
roti gandum digenggamannya, dengaan senyum yang begitu tulus dia menawariku “
Apa kau mau roti ini? Kau bukan penduduk sini kan karena aku tak pernah melihat
wajahmu” tanya gadis itu sambil menyodorkan rotinya. “ Iya nak bagaimana
mungkin kau mengingat setiap wajah dikota ini?” tanyaku padanya. “Aku memang
tidak begitu hafal dengan setiap pria dikota ini namun dikota ini tak akan ada
pria sepertimu, dengan celana jeans
,sepatu boots, kunci mobil yang
tergantung pada celana dan mantel yang hangat, karena orang sepertimu tak
mungkin dari kota ini.” Begitu penjelasannya. Kota semakin gelap dan perlahan
dingin datang memeluk kami.
“Apakah
mantel itu benar-benar hangat?” tanyanya dalam dingin. Gadis kecil itu setiap
malam diterpa dingin dalam rumah yang penuh dengan cabik peluru, sehingga angin
begitu bebas hilir mudik mengigilkan ia. “lebih baik kau kenakan ini,agar
dingin tak mengganggu tidurmu” kuberikan mantelku itu padanya. Aku melihat
wajah wajah yang begitu muram tanpa cahaya masa depan, dari seorang peria tua
yang berdiang dekat api, dari seorang pemuda yang sedang mengais sampah
berharap ada yang bisa isi perutnya, walaupun sepertinya semua sampah yang
dibuang benar benar sudah tak ada sisa untuk dimakan, ada juga seorang wanita
tua yang memainkan harmonika, aku dengar suaranya begitu lirih, seperti meminta
kepada Tuhan agar cepat-cepat Ia datang kebumi atau wanita itu yang pergi
kenirwana.
Bulan
sepertinya sengaja bertahan dilangit tanpa mau digantikan mentari yang juga
ingin tampil dikota yag suram itu. Aku melihat gadis kecil itu tersenyum dalam
tidurnya sepertinya hanya saat itu ia lupa pendertaannya, tentang roket diatas
kepala, bom yang berdentum ditiap sudut atau berondong peluru yang tak kenal
tempat. Senyum gadis itu ingin sekali ku potret agar abadi dalam sebuah
lembaran foto, bukan wajah yang sedih tanpa cahaya masa depan.
Aku
tinggalkan gadis itu dalam lelap tidurnya dan kujadikan mantel itu sebagai
oleh-oleh, ketika mentari menintip diufuk Timur kumulai langkahku dari tempat
tinggalnya. Ditemani sinar sang surya aku melangkah dan menjauh dari kota itu.
Kukumpulkan senapan, peluru dan bom dalam gudang senjata. “ Kita harus
selesikan ini” sambil kusulut korek ditanganku dan kubakar gudang itu. “KOMANDAN!!”
teriak seluruh pasukanku.
Keren nge, bikinnya sambil nginek ya?
BalasHapus